Kadar Hb Rendah Pada Bayi Baru Lahir

Hemoglobin adalah protein dalam darah yang membentuk sel darah merah sekaligus mengikat oksigen. Kadar Hb dapat menurun dan ini bisa terjadi pada anak, bahkan bayi yang baru saja dilahirkan. Jika kadar hb rendah terjadi pada bayi, apa yang akan terjadi? Cari tahu jawabannya pada ulasan berikut ini.

Kadar Hb tinggi dan rendah pada bayi yang baru lahir

Hemoglobin, erat kaitannya dengan sel darah merah (eritrosit). Hemoglobin merupakan salah satu komponen berupa protein yang bertugas memberi bentuk sel darah merah, yakni bulat dan pipih di tengah Tujuannya, agar sel darah merah mudah mengalir ke seluruh pembuluh darah di dalam tubuh.

Selain itu, hemoglobin juga berfungsi mengikat oksigen dan membawanya bersama darah untuk disalurkan ke seluruh sel dan jaringan tubuh.

Nah, pada bayi yang baru lahir, massa sel darah merahnya sangat bervariasi. Itu artinya, kadar Hb pada bayi yang baru lahir bisa tinggi atau rendah.

Menjelang kelahiran, kadar Hb bayi normalnya akan tinggi. Ini terjadi karena bayi harus mengikat oksigen sendiri yang didapat dari plasenta ibunya. Kadar oksigen yang terbatas ini menyebabkan hemoglobin bayi akan meningkat.

Jumlah Hb normal pada bayi yang baru lahir, yakni 19,3 mg/dL-22 mg/dL. Nilainya akan terus meningkat selama 2 jam setelah bayi dilahirkan.

Setelah usianya mencapai 1 minggu, kadar Hb bayi akan menjadi turun. Ini merupakan tanda bahwa bayi merespons adanya tekanan oksigen yang lebih tinggi ketimbang di dalam kandungan ibunya.

Memasuki minggu ke-8 dan 12, kadar Hb pada bayi akan jadi lebih rendah. Menurunnya kadar Hb ini, seolah-seolah membuat bayi mengalami anemia, padahal sebenarnya tidak.

Anemia adalah istilah medis untuk menggambarkan kadar Hb yang rendah. Konsentrasi Hb bayi pada saat ini, akan berkisar antara 9 mg/dL – 11 mg/dL.

Penyebab kadar Hb rendah pada bayi baru lahir

Normalnya, setelah bayi lahir, kadar Hb akan tinggi. Jika tidak, mungkin bayi memiliki masalah kesehatan tertentu.

Biasanya, kondisi tersebut terjadi pada bayi yang lahir prematur karena sang ibu tidak dapat memberikan zat besi—zat pembentuk sel darah merah—hingga akhir trimester ketiga.

Zat besi yang tidak tercukupi ini kemudian menyebabkan hemoglobin mudah pecah dan tidak berhasil membentuk eritrosit sesuai kebutuhan. Akibatnya, terjadilah anemia defisiensi zat besi di mana kadar hb dan zat besi menjadi rendah pada bayi baru lahir (usia 3-8 minggu).

Penyebab anemia lainnya pada bayi baru lahir, yaitu kehilangan darah, penurunan produksi sel darah merah, dan meningkatnya kerusakan sel darah merah.

Kehilangan darah biasanya terjadi akibat bayi kembar, kerusakan plasenta dan tali pusat, penjepitan tali pusat yang tertunda saat persalinan, dan perdarahan internal yang terjadi saat proses melahirkan.

Sementara, penurunan produksi sel darah merah bisa disebabkan kelainan sumsum tulang atau apabila sang ibu mengalami infeksi saat kehamilan, seperti TORCH (toksoplasmosis, rubella, cytomegalovirus, herpesvirus).

Selain itu, kerusakan sel darah merah pada bayi, yang juga berpengaruh terhadap Hb rendah, sebagian besar disebabkan oleh hemolytic disease atau erythroblastosis fetalis, yang terjadi akibat ketidakcocokan golongan darah ibu dan bayi.

Bahaya kadar Hb rendah pada bayi baru lahir

Kadar Hb rendah pada bayi akibat kehilangan sejumlah darah, mungkin akan membuat sang bayi mengalami syok. Kulitnya akan menjadi lebih pucat, denyut jantung jadi lebih cepat, tekanan darah jadi rendah, dan pernapasannya jadi lebih cepat dan pendek.

Sementara, Hb rendah yang terjadi akibat kerusakan eritrosit, produksi bilirubin akan meningkat dan menumpuk (hiperbilirubinemia). Akibatnya, kulit dan mata bayi akan menguning (jaundice).

Jika bayi tidak mampu mengendalikan bilirubin yang berlebihan dari kerusakan sel darah merah, organ hati bayi dapat membesar. Bilirubin juga bisa menumpuk di otak menyebabkan bayi kejang, kerusakan otak, kehilangan pendengaran, dan kematian.

Kematian tidak hanya disebabkan oleh penumpukan bilirubin. Kekurangan sel darah merah dan hemoglobin yang menyebabkan aritmia (denyut jantung tidak teratur), dapat menimbulkan pembesaran jantung atau gagal jantung yang berisiko dengan kematian.

Oleh karena adanya risiko yang mengancam pada bayi baru lahir dengan Hb rendah, bayi dengan kondisi ini biasanya diharuskan mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.